Kamis, 03 Februari 2011

Hubungan Bangsa Maya Dengan Alien



Sebuah ceritera kuno bangsa Maya mengatakan bahwa 10.000 tahun yang lalu mereka berada dalam peradaban puncak. Walaupun para ahli purbakala meragukan kebenaran “ waktu 10.000 tahun yang lalu “ itu dalam tulisan mereka, namun saya akan tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat penting, sebab tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskan, dari mana asal bangsa Maya itu dan kemudian kemana perginya mereka itu. Sebab telah dibuktikan, bahwa kota-kota bangsa Maya tidak dihancurkan oleh peperangan atau bencana bencana alam.

Kota-kota itu dengan demikian telah ditinggalkan oleh para penduduknya. Bangsa Maya telah lenyap tanpa bekas. Mengapakah mereka telah meninggalkan kota-kota mereka yang hebat, yang telah mereka bangun “untuk bertahan sepanjang masa” dengan balok-balok yang utuh?

Telah diakui bahwa apa yang disebut zaman “sebelum zaman kuno” berada diantara 1000-2000 tahun sebelum Masehi, akan tetapi dalam hal ini diakui oleh para sarjana, mereka sebenarnya tidak mengetahui apa-pun mengenai “zaman purbakala “ yang sebenarnya, yang mendahului “zaman sebelum zaman kuno”. Adalah sangat besar kemungkinannya, bahwa semua “kejadian nyata” dalam sejarah yang hingga kini belum dapat diketemukan, ada dalam buku buku yang telah dibakar oleh uskup Landa.


Hanya ada tiga buku kuno tulisan tangan dari bangsa Maya yang tidak ikut terbakar; lembarannya dibuat dari kulit pohon dan dilipat-lipat seperti harmonica. Buku-buku itu disebut menurut nama tempat, di mana masing masing disimpan : Dresdensis Codex (Codex = buku kuno dalam tulisan tangan ), Paris Codex dan Madrid Codex, yang juga dikenal sebagai Tro-Cortesianus.

Tulisan-tulisannya yang sudah berwarna kuning karena tuanya, masih belum sungguh-sungguh dapat dimengerti. Yang telah dapatdipecahkan adalah “system menurut nomer” mereka yang sangat baik, akan tetapi sederhana. Mereka menghitung dengan goresan-goresan, yang diberi titik-titik di atasnya. Satu titik sama dengan 1, tiga titik dengan 3, dst nya. Angka 5 digambarkan dengan sebuah goresan, sehingga angka 7 menjadi sebuah goresan ditambah dua titik diatasnya. Bangsa Maya pun mengetahui nilai-nilai nisbi dan nol. Mereka menggunakan system “vigesima”, atas dasar 20. Kalau mereka ingin menulis bilangan 23 , maka mereka menaruh tiga titik di tempat “satuan” dan satu goresan di tempat “duapuluh”. Mudahlah untuk membedakan“goresan dua puluh” dari “goresan limaan”.

Goresan dua puluhan diberi tempat jauh lebih tinggi dari pada tempat goresan limaan. Kalender bangsa Maya mempunyai kualitas yang amat tinggi . Tanggal permulaan urutan waktu mereka adalah suatu hari dalam tahun 3113 sebelum Masehi. Para ahli dari Amerika selatan menyatakan, bahwa tahun gaib 3113 sebelum Masehi itu tidak ada hitungannya dengan sejarah yang sebenarnya dari bangsa Maya, akan tetapi hanya mempunyai nilai asli “simbolis” seperti ucapan bangsa Yahudi “sejak diciptakannya dunia”.

Bagaimanakah mereka dapat mengatakan itu secara demikian pasti, kalau kita tidak mengetahui dari mana asal datangnya orang Maya itu dan kemana mereka lenyap pergi. Sangat banyaklah sudah tulisan tulisan mengenai kalender bangsa Maya itu. Suatu kenyataan adalah, bahwa kalender itu menggunakan system putaran-putaran tahun yang setiap putarannya berjangka waktu 374,000 tahun. Bangunan-bangunan didirikan menurut kalendernya : Untuk tiap hari selama sebulan sebuah anak tangga, untuk tiap bulannya sebuah “mimbar dan akhirnya, pada hari yang ke 365, berdirilah sudah tempat berhala itu.

Kelihatannya seakan-akan orang -orang bangsa Maya dari kerajaan kuno itu membuat bangunan-bangunan keagamaan mereka bukannya karena terdorong oleh kebutuhan kepercayaan, melainkan karena kalender memaksakan mereka suatu kewajiban yang harus mereka penuhi. Observatorium para ahli perbintangan mereka, sebuah bangunan bundar di atas dua teras raksasa yang menjulang tinggi di atas hutan belukar, terletak di Chichen Itza. Para ahli perbintangan bangsa Maya mengetahui orbit bulan sampai pada empat desimal dan mereka juga dapat menghitung tahun planet Venus sampai pada sampai pada tiga desimal.

Menurut ceritera kuno, maka para dewa permulaan dari bangsa Maya berasal dari bintang-bintang, mengadakan hubungan dengan bumi, dan kemudian kembali lagi ke bintang bintang. Dalam “ Popol Vuh ”, sebuah ceritera kuno bangsa Maya, dikemukakan bahwa 4000 pemuda dari cakrawala kembali ke “ bintang tujuh “, setelah mereka menderita kekalahan dalam perkelahian dengan manusia. Dewa Kukulkan rupa-rupanya betukar berita dengan bangsa Aztec, yang bernama Quetzalcoatl. Dia digambarkan sebagai seekor ular yang berbulu dan datang dari langit. Kalau orang-orang bangsa Maya, dalam hidupnya setiap hari melihat ular-ular merayap di tanah, maka sulitlah untuk dimengerti, mengapa ular-ular dalam gambaran dan relief mereka dapat “terbang “. Tulisan-tulisan bangsa Maya yang masih ada, meliputi 208 halaman yang dilipat menurut cara harmonica. Melihat banyak dan banyak macamnya tanda-tanda, bentuk-bentuk, lambang-lambang dan bentuk kombinasi, maka tidaklah mengherankan bahwa sampai sekarang hanya sedikitlah yang dapat dipecahkan artinya.

Lukisan-lukisan pada serat pohon yang diberi lapisan tipis dari kapur sebagai landasan lukisannya, disimpan antara dua lembaran kaca. “Dresden Codex” mempunyai 74 halaman, dan berisi perhitungan mengenai perbintangan dan juga berisi daftar-daftar mengenai perjalanan dan gerak bulan dan planet Mars. Pada lukisan-lukisan itu selalu terlihat adanya makhluk mengerikan yang berbentuk seperti ular di dekat bilangan-bilangan. Makhluk itu dihubungkan dengan bulan dan memuntahkan air ke bumi.

Makhluk “ manusia “ nya mengenakan kedok dan perlengkapan kepala yang rumit, dan seringkali kelihatannya mengenakan semacam pakaian selam. Apakah mereka itu pendeta-pendeta bangsa Maya yang sedang melakukan percobaan-percobaan ataukah binatang binatang? Makhluk-makhluk yang tidak dapat ditentukan makhluk, apa sebenarnya, dengan menggunakan banyak peralatan yang aneh-aneh.

“Paris Codex“ dibeli oleh “Bibliotheque Nationable” (Perpustakaan Nasional) di tahun 1832 dari koleksi seseorang. Dibuat dari bahan yang sama dengan bahan “Dresden Codex” dan mempunyai 22 halaman yang sudah sangat rusak. Dalam abad terakhir ini, pemeliharaan terhadap halaman-halaman yang dilipat-lipat itu adalah demikian jeleknya sehingga kini hanya tinggal dua halaman saja yang dapat dipertunjukkan dalam sebuah kotak dari kaca. Untungnya bagi kita adalah, bahwa dari “Paris Codex“ terutama berisi ramalan-ramalan menurut kalender. “Madrid Codex” disimpan di “Museo de America” di Madrid dan terdiri dari 112 halaman bergambar, dimana dapat terlihat gambar dewa-dewa dalam sikap upacara keagamaan yang besar. Gambar-gambar dan bagian-bagiannya, sampai yang kecil-kecil adalah sangat menarik. Kita dapat melihat segala macam benda dalam gambar-gambar itu.

Dewa-dewa berasap pada kulit bumi, dewa-dewa sebelum makan pembuluh darah, hukuman dengan tusukan pada lidah, seorang dewi dengan kepala ular pada roda pemintal. Saya telah mengkopi bagian-bagian dari buku-buku itu, yang sebenarnya hanya diketahui oleh para ahli-ahli saja, sehingga setiap orang yang berpengetahuan dan mempunyai perhatian terhadap dan mempunyai perhatian terhadap persoalan ini, dapat menilai sendiri apa yang benar-benar digambar. Saya mempunyai dugaan, bahwa orang awam akan merumuskan gagasan-gagasannya secara lebih bebas daripada seorang ahli bangsa Maya.

Selama penyelidikan-penyelidikannya di lapangan dari tahun 1949 sampai 1952, seorang ahli purbakala bangsa Mexico bernama Alberto Ruz Lhuiller menemukan sebuah kamar penyimpanan jenazah di “Kuil naskah tulisan tangan“ di Palenque. Dari kamar depan kuil yang berada di mimbar tertinggi sebuah piramida bertangga, terdapat sebuah bordes yang miring agak curam dan licin karena kelembaban udara, yang menjurus ke bawah sampai hampir 75 kaki dan berakhir sampai 6 kaki dibawah tanah. Tangganya disembunyikan demikian rupa, sehingga dapat kita tarik kesimpulan, bahwa tangga itu tadinya pasti dirahasiakan. Ukuran dan letak kamar itu cocok dengan “pengertian tentang ilmu gaib “ (Marcel Brion). Para ahli purbakala beserta pembantu-pembantunya membutuhkan waktu tiga tahun untuk membersihkan tangga itu, dari puncak sampai ke dasarnya. Lantai ruangan itu terbuatdari satu batu utuh yang berukuran panjang 14 kaki dan lebar 7 kaki, dengan gambar relief yang luar biasa. Saya belum pernah melihat sebuah relief lainnnya, yang demikian indah dan cermat pembuatannya.

Ukiran-ukiran bangsa Maya terdapat di sekitar sudut-sudut permukaan yang datar itu, akan tetapi hanya sangat sedikitlah dari ukiran-ukiran itu yang dapat dipecahkan artinya. Batu datarnya dihias dengan ukiran-ukiran tulisan seperti yang terdapat di Dresden Paris dan Madrid Codex. Dalam gambar-gambar itu kita lihat sebuah kedok dewa bumi, dengan hiasan-hiasan bulu di dadanya, tali-tali dan pipa-pipa dari dari batu berwarna dan tidak ketinggalan pula seekor burung yang dianggap suci (burung Kwitzel dari Amerika tengah). Paul Rivet, salah seorang dari kelompok ahli-ahli purbakala yang telah menemukan kamar jenazah dalam kuil di Palenque itu, berkata, bahwa orang Indiannya digambarkan sedang duduk di altar pengorbanan dan bahwa dibelakang tempat duduknya terukir rambut jenggot Dewa Cuaca, motifmotif yang selalu timbul kembali dikota-kota Maya.

Di bawah batu utuh yang dihias secara indah itu, terdapat sebuah kerangka dalam sebuah peti mati yang dicat merah. Sebuah kedok emas menutupi muka kerangka; beberapa butir batu pertama terdapat di sebelah kerangka, seakan-akan merupakan benda-benda upacara keagamaan dan benda benda yang dikorbankan. Sejak saya melihat batu kuburan di Palengue itu, maka saya menafsirkan dan merumuskannya dalam istilah-istilah tekhnik. Tidaklah menjadi persoalan, apakah kita menggunakan sudut pandangan ini ataukah itu , tetapi saya ada perasaan, bahwa ada petualang-petualang ruang angkasa tersangkut dalam soal ini. Potret-potret terbaik yang pernah saya lihat mengenai batu kuburan, yang berada di belakang pintu besi yang terkunci itu, adalah hasil pemotretan dari para pemotret film “


Kereta-kereta perang para Dewa kah? “Setelah delapan kali mengajukan permohonan, maka Pemerintah mengizinkan kami untuk kerja selama setengah jam dengan menggunakan kamera dan lampu - lampu sorot. Potret potret ini akan memberikan gambaran yang lebih baik kepada para pembaca mengenai persoalan yang saya bicarakan dari pada gambar-gambar dalam buku saya yang pertama. Akhirnya kesemuanya itu menujukkan, bahwa batu kuburan itu merupakan sebuah kerangka yang di tengah tengahnya terdapat makhuk, yang duduk agak membongkok ke depan (seperti seorang Astronaut di dalam module komandonya).

Makhluk asing itu mengenakan sebuah topi helm, dari bagian belakang topi helm itu mencuat keluar dua batang pipa. Di depan hidungnya terdapat aparat oxygen. Makhluk itu sedang mengerjakan alat semacam tombol pengamatan dengan kedua tangannya. Jari-jari yang sebelah atas disusun, seakan-akan makhluk sedang menyetel sebuah tombol yang ada di depannya. Kita melihat dari arah belakang, empat jari dari tangannya yang sebelah bawah jari kelingkingnya bengkok. Apakah makhluk itu tidak kelihatan seperti sedang mengerjakan alat pengontrol seperti yang terdapat pada stir sepeda motor? Tumit kaki kirinya berada di atas pedal bertangga. Yang melihat relief di Palengue itu akan heran melihat kenyataan, bahwa “orang Indian yang berada di atas altar pengorbanan “ itu mengenakan pakaian yang sangat modern. Tepat di bawah dagunya terdapat semacam leher gulung sebuah kemeja wol.

Bajunya yang sempit mempunyai lengan baju, yang ujungnya pada pergelangan tangan dilipat ke atas. Dia menggunakan ikat pinggang pada pergelangan tangan, dilipat ke atas. Dia menggunakan ikat pinggang lebar, dan mengenakan celana panjang, yang bagian atasnya lebar dan bercorak seperti mata jala, sedangkan bagian bawahnya, mulai dari sedikit di atas lutut sampai terus di pergelangan kaki adalah sempit. Di pergelangan kakinya terlihat bagian pakaian seperti kaos kaki pakaian lengkap bagi seorang astronaut !, peralatan di dalamnya di mana si petualang ruang angkasa itu duduk meringkuk dengan kaku, menunjukkan ciri-ciri teknis sebagai peralatan untuk perjalanan ruang angkasa.

Rabu, 02 Februari 2011

miracle of life


A crop circle in Switzerland.
A crop circle is a sizable pattern created by the flattening of a crop such as wheat, barley, rye, maize, or rapeseed. Crop circles are also referred to as crop formations, because they are not always circular in shape. While the exact date crop circles began to appear is unknown, the documented cases have substantially increased from the 1970s to current times. Twenty-six countries ended up reporting approximately ten-thousand crop circles, in the last third of the 20th century, and 90% of those were located in southern England.[1] Many of the formations appearing in that area are positioned near ancient monuments, such as Stonehenge. Nearly half of all circles found in the UK are located within a 15 km radius of Avebury.[2]. Formations usually are made overnight, but have also been made during the day. The most widely known method for a person or group to construct a crop formation is to tie one end of a rope to an anchor point, and the other end to a board which is used to crush the plants. More recent methods include the use of a lawn roller.
Some crop formations are paid for by companies who use them as advertising.[3] Other formations are sometimes claimed by individuals or groups without any evidence to support their assertion, usually after undesirable legal repercussions become unlikely.

Contents

[hide]

[edit] History


1678 pamphlet on the "Mowing-Devil".
Certain evidence, such as the Mowing-Devil, suggest the appearance of crop circles well before the 20th century. Nevertheless, there are important differences between that story and modern crop circles. The story of the mowing devil involves the cutting of the crops following a dispute over crop harvesting and an invocation of the devil, no geometric patterns were reported.

[edit] Bower and Chorley

In 1991, self-professed pranksters Doug Bower and Dave Chorley stated that they had started the phenomenon in 1978 by making actual circles on crops with the use of simple tools.[4] After their announcement, in a demonstration the two men made a crop circle in one hour.
After the revelation of the hoax, crop circle-like patterns continued to be made and became more complex. Some even came to resemble extraterrestrials as portrayed by certain science fiction movies, fractals, and archaeological, religious, or mythological symbols. Among others, paranormal enthusiasts, ufologists, and anomalistic investigators have offered hypothetical explanations that have been criticized as pseudoscientific by skeptical groups like the Committee for Skeptical Inquiry.[5][6][7][8]

[edit] Art and business


Aerial view of crop circle in Diessenhofen, July 2008
Since the early 1990s the UK arts collective founded by artist John Lundberg, named the Circlemakers, have been creating some crop circles in the UK and around the world both as part of their art practice and for commercial clients.[9][10]
On the night of July 11–12, 1992, a crop-circle making competition, for a prize of several thousand UK pounds (partly funded by the Arthur Koestler Foundation), was held in Berkshire. The winning entry was produced by three Westland Helicopters engineers, using rope, PVC pipe, a trestle and a ladder. Another competitor used a small garden roller, a plank and some rope.
In 2002, Discovery Channel commissioned five aeronautics and astronautics graduate students from MIT to create crop circles of their own, aiming to duplicate some of the features claimed to distinguish "real" crop circles from the known fakes such as those created by Bower and Chorley. The creation of the circle was recorded and used in the Discovery Channel documentary Crop Circles: Mysteries in the Fields.[11]

[edit] Legal implications

In 1992 Hungarian youths Gábor Takács and Róbert Dallos, both then 17, were the first people to face legal action after creating a crop circle. Takács and Dallos, of the St. Stephen Agricultural Technicum, a high school in Hungary specializing in agriculture, created a 36-meter diameter crop circle in a wheat field near Székesfehérvár, 43 miles (69 km) southwest of Budapest, on June 8, 1992. On September 3, the pair appeared on Hungarian TV and exposed the circle as a hoax, showing photos of the field before and after the circle was made. As a result, Aranykalász Co., the owners of the land, sued the youngsters for 630,000 HUF (approximately $3000 USD) in damages. The presiding judge ruled that the students were only responsible for the damage caused in the 36-meter diameter circle, amounting to about 6,000 HUF (approximately $30 USD), and that 99% of the damage to the crops was caused by the thousands of visitors who flocked to Székesfehérvár following the media's promotion of the circle. The fine was eventually paid by the TV show, as were the students' legal fees.[citation needed]
In 2000, Matthew Williams became the first man in the UK to be arrested for causing criminal damage after making a crop circle near Devizes.[12]

[edit] Other explanations

[edit] Weather

Some people have suggested that crop circles are the result of extraordinary meteorological phenomena. This hypothesis probably originated from a 1880 publication in Nature by investigator and amateur scientist John Rand Capron. Part of the publication reappeared in the January 2000 issue of Journal of Meteorology:[13][14]
The storms about this part of Western Surrey have been lately local and violent, and the effects produced in some instances curious. Visiting a neighbour's farm on Wednesday evening (21st), we found a field of standing wheat considerably knocked about, not as an entirety, but in patches forming, as viewed from a distance, circular spots... I could not trace locally any circumstances accounting for the peculiar forms of the patches in the field, nor indicating whether it was wind or rain, or both combined, which had caused them, beyond the general evidence everywhere of heavy rainfall. They were suggestive to me of some cyclonic wind action...

[edit] Paranormal


A crop circle in the form of a triskelion

A 780 ft crop circle in the form of a double (six-sided) triskelion composed of 409 circles. John Lundberg has claimed responsibility for its production. Location: Milk Hill (England), 2001
Since appearing in the media in the 1970s, crop circles have become the subject of speculation by various paranormal, ufological, and anomalistic investigators ranging from proposals that they were created by bizarre meteorological phenomena to messages from extraterrestrials.[15][16][17][18]
The location of many crop circles near ancient sites such as Stonehenge, barrows, and chalk horses has led many New Age belief systems to incorporate crop circles, speculating their existence in relation to ley lines.[15][19][20]
Some New Age supporters have related crop circles to the Gaia hypothesis, alleging that "Gaia", the earth, is actually alive and that crop circles are messages or responses to stimuli such as global warming and human pollution. It asserts that the earth may be modeled as if a single super-organism, in that earthly components (e.g. biota, climate, temperature, sunlight, etc.) influence each other and are organized to function and develop as a whole.[21]
The main criticism of alleged non-human creation of crop circles is that while evidence of these origins, besides eyewitness testimonies, is essentially absent, some are definitely known to be the work of human pranksters and others can be adequately explained as such. There have been cases in which researchers declared crop circles to be "the real thing", only to be confronted with the people who created the circle and documented the fraud (see above).[22] In his 1997 book The Demon-Haunted World: Science as a Candle in the Dark, Carl Sagan discussed alien-based theories of crop circle formation. Sagan concluded that no empirical evidence existed to link UFOs with crop circles.[23] Many others have demonstrated how complex crop circles can be created.[24][25] Scientific American published an article by Matt Ridley,[26] who started making crop circles in northern England in 1991. He wrote about how easy it is to develop techniques using simple tools that can easily fool later observers. He reported on "expert" sources such as the Wall Street Journal who had been easily fooled and mused about why people want to believe supernatural explanations for phenomena that are not yet explained. Methods to create a crop circle are now well documented on the internet.[24]

[edit] Animal activity

In 2009, BBC News reported that Lara Giddings, the attorney general for the island state of Tasmania, stated that Australian wallabies had been found creating crop circles in fields of poppies after consuming some of the opiate-laden crop and running in circles.[27]

[edit] See also